Pagi buta, hari ke-29 di bulan April ini saya berkesempatan cabut dari Semarang menuju Surakarta untuk sekadar menikmati rangkaian acara “Solo Menari 24 Jam” dalam rangka Hari Tari Internasional yang oleh UNESCO dilabeli tema “Meretas Batas dalam Nuansa Warna”. Annual event sejak tahun 2007 yang berpusat di ISI Surakarta ini adalah produk kerjasama antara kampus tersebut, Pemerintah Kota Surakarta, serta World Dance Day Community.
Kebetulan, PGSD UNNES (kampus tempat saya belajar) pun turut mengirimkan delegasi-delegasinya untuk memeriahkan acara. Hasil latihan selama hampir sebulan yang dipandu oleh Ibu Deasylina da Ary cukup menarik perhatian khalayak ramai. Tarian yang bertemakan weden sawah dengan gaya yang sengaja dibuat kaku saya rasa cukup medeni publik. Kostum hitam, caping, padi, lengkaplah sudah mewarnai nuansa khas sawah.
Ternyata, tak hanya penari lingkup Jateng saja yang menyemarakkan acara, dari UPI Bandung dan komunitas seniman Karawang pun enggan untuk absen. Kepiawaian mereka dalam menari dan memainkan gamelan membawa suasana tersendiri di hati penikmat. Usut punya usut, ternyata jika digunggung ada 104 tim tari yang akan mendemonstrasikan tariannya kali ini. Wew!
Animo yang sedemikian besar dari para penari juga diimbangi oleh penonton yang membanjiri area. Ada yang berambut hitam, brunette, blonde sampai yang lebih cerah – putih. Semuanya bersatu padu menikmati suguhan tarian tanah air.
Tak membosankan, ISI mengemas acara ini dalam sistem nomaden. Ada 9 titik yang digunakan untuk pertunjukan. Setelah kami menikmati di lapangan yang entah apa namanya, kami digiring menuju Taman Eden. Selang setelah disuguhi alunan angklung Malioboro, tari Gambang Semarang, tari Rikan Binangkit, dan tari Bekso kami dituntun lagi melangkah menuju Gedung Pendhapa. Di sana, Fakultas Kedokteran UNS dalam wadahnya yang bernama Secarta menampilkan tari Saman yang cukup memukau. Tabuhan jimbe semakin mempermanis setiap gerakan tarian. Tepuk tangan meriah di setiap jedanya mungkin bisa dijadikan indikator akan keberhasilan mereka dalam menarik hati penonton. Mengingat Indonesia memiliki kekayaan tarian yang patut dilestarikan, tak berlebihan kiranya jika penyelenggara harus diacungi jempol lantaran kiprahnya dalam melestarikan budaya yang satu ini.
Hanya beberapa jam saja saya menampakkan bola mata untuk acara ini lantaran harus kembali ke Semarang bergelut dengan rutinitas yang tak boleh ditinggalkan. Sampai di titik ke-3 yakni Gedung Pendhapa inilah tempat dimana akhirnya saya memutuskan pulang ke sarang dengan membawa pengalaman yang berkesan lantas dibagikan kepada teman-teman yang belum sempat datang (mungkin termasuk panjenengan).